p

Monday, November 23, 2015

Barang Modal Bebas PPN

  1. KETENTUAN ATAS IMPOR/PENYERAHAN BARANG MODAL
    1. PKP yang mengimpor dan/atau menerima penyerahan barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik, baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas, tidak termasuk suku cadang, diwajibkan mempunyai Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak. (Pasal 5 ayat (1) PMK 31/PMK.03/2008)
    2. Permohonan untuk memperoleh SKB PPN diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan melampirkan dokumen impor dan/atau dokumen pembelian yang bersangkutan.  (Pasal 5 ayat (3) PMK 31/PMK.03/2008)


  1. TATA CARA PENGAJUAN SKB PPN ATAS IMPOR BARANG MODAL YANG MENDAPAT FASILITAS PPN DIBEBASKAN Lampiran I Huruf B KEP-234/PJ/2003
    1. PKP yang mengimpor BKP tertentu yang bersifat strategis wajib mengajukan permohonan SKB PPN kepada Direktur Jenderal Pajak c.q. Kepala KPP dimana PKP terdaftar dengan contoh formulir Lampiran II KEP-234/PJ/2003
    2. Permohonan harus sudah diajukan sebelum impor dilakukan.
    3. Permohonan SKB PPN diajukan dengan melampirkan:
      1. Fotokopi Kartu NPWP;
      2. Fotokopi Surat Pengukuhan PKP;
      3. Surat Kuasa Khusus bila dalam permohonan atau pengurusan SKB PPN diwakilkan kepada orang lain;
      4. Dokumen impor berupa :
        1. Invoice;
        2. Bill of Lading (B/L) atau Airway Bill (AWB);
        3. Dokumen Kontrak pembelian yang bersangkutan atau dokumen yang dapat dipersamakan;
        4. Dokumen pembayaran berupa Letter of Credit (L/C) atau bukti transfer atau bukti lainnya yang berkaitan dengan pembayaran tersebut.
      5. Penjelasan tertulis secara rinci mengenai kegunaan dari BKP yang di impor dalam rangkaian proses produksi menghasilkan BKP.
    4. SKB PPN atas impor BU Tertentu yang bersifat strategis, dengan bentuk sebagaimana dimaksud dalam Lampiran IIIKEP-234/PJ/2003, diterbitkan oleh Kepala KPP atas nama DJP dalam 3 (tiga) rangkap dengan peruntukan sebagai berikut :
      1. Lembar ke-1 : untuk DJBC;
      2. Lembar ke-2 : untuk PKP pemohon SKB;
      3. Lembar ke- 3 : untuk KPP penerbitan SKB PPN.
    5. Pemberitahuan Impor Barang (PIB) atas impor BKP  dibubuhi cap "PPN DIBEBASKAN SESUAI PP NOMOR 12 TAHUN 2001 SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN PP NOMOR 31 TAHUN 2007" oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai." (Pasal 5 ayat (6) PMK 31/PMK.03/2008)

  1. TATA CARA PENGAJUAN SKB PPN ATAS PENYERAHAN BARANG MODAL YANG MENDAPAT FASILITAS PPN DIBEBASKAN Lampiran I Huruf C KEP-234/PJ/2003
    1. PKP yang menerima penyerahan BKP Tertentu yang bersifat strategis wajib mengajukan permohonan SKB PPN kepada Direktur Jcnderal Pajak c.q. Kepala KPP dimana PKP terdaftar dengan contoh formulir Lampiran II KEP-234/PJ/2003
    2. Permohonan tersebut harus sudah diajukan sebelum penyerahan BKP tersebut dilakukan.
    3. Permohonan SKB PPN diajukan dengan melampirkan :
      1. Fotokopi Kartu NPWP;
      2. Fotokopi Surat Pengukuhan PKP;
      3. Surat Kuasa Khusus bila dalam permohonan atau pengurusan SKB PPN diwakilkan kepada orang lain;
      4. Dokumen kontrak pembelian atau surat perjanjian jual beli atau dokumen yang dapat dipersamakan;
      5. Penjelasan tertulis secara rinci mengenai kegunaan dari BKP yang diserahkan dalam rangkaian proses produksi menghasilkan BKP.
    4. SKB PPN atas penyerahan BKP Tertentu yang bersifat strategis, dengan bentuk sebagaimana dimaksud dalamLampiran IV KEP-234/PJ/2003, diterbitkan oleh Kepala KPP atas nama DJP dalam 4 (empat) rangkap dengan peruntukan sebagai berikut :
      1. Lembar ke- 1 : untuk PKP yang menyerahkan BKP Tertentu yang bersifat strategis (penjual) melalui PKP yang menerima penyerahan BKP Tertentu yang bersifat strategis (pemohon SKB);
      2. Lembar ke- 2 : untuk PKP pemohon SKB;
      3. Lembar ke- 3 : untuk KPP tempat PKP yang menyerahkan BKP Tertentu Yang Bersifat Strategis terdaftar (KPP penjual);
      4. Lembar ke- 4 : untuk Kantor Pelayanan Pajak penerbit SKB PPN.
    5. PKP yang melakukan penyerahan wajib menerbitkan Faktur Pajak dan membubuhkan cap "PPN DIBEBASKAN SESUAI PP NOMOR 12 TAHUN 2001 SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN PP NOMOR 31 TAHUN 2007(Pasal 6 ayat (3) PMK 31/PMK.03/2008)


  1. KETENTUAN TERHADAP BARANG MODAL YANG DALAM JANGKA WAKTU 5 TAHUN DIPINDAHTANGANKAN ATAU TIDAK DIGUNAKAN SEPERTI TUJUAN SEMULA (PP 46 TAHUN 2003 Pasal 4)
        o     Dalam hal BKP Tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan dari pengenaan PPN, ternyata di gunakan tidak sesuai dengan tujuan semula atau dipindahtangankan kepada pihak lain sebagian atau seluruhnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun atau kurang sejak perolehannya atas PPN yang telah dibebaskan wajib dibayar dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak BKP Tertentu yang bersifat strategis tersebut dialihkan penggunaannya atau dipindahtangankan.
        o     Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan, PPN yang dibebaskan tidak dibayar, DJP menerbitkan SKPKB ditambah dengan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
        o     PPN yang dibayar ini, tidak dapat di kreditkan sebagai Pajak Masukan.

  1. KETENTUAN TERKAIT PM
        o     Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau perolehan JKP yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN tidak dapat dikreditkan.(Pasal 16B ayat (3) UU Nomor 42 TAHUN 2009)


No comments:

Post a Comment