p

Friday, November 20, 2015

Pemanfaatan BKP tidak Berwujud / JKP dari Luar Daerah Pabean

  1. PEMANFAATAN BKP TB / JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN ADALAH OBJEK PPN
        o     PPN yang terutang atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean harus dipungut oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP tersebut. UU PPN No.42 TAHUN 2009 Pasal 3A ayat (3)


  1. DEFENISI TERKAIT
        o     Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. (Pasal 1 angka 10 UU PPN No.42 TAHUN 2009)
                o     yang dimaksud dengan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean adalah: (angka 2 SE-147/PJ/2010)
                                       1.        BKP Tidak Berwujud tersebut dimiliki oleh orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau berkedudukan di luar Daerah Pabean;
                                       2.        kegiatan pemanfaatan BKP Tidak Berwujud yang berasal dari luar Daerah Pabean tersebut dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan
                                       3.        BKP Tidak Berwujud yang berasal dari luar Daerah Pabean tersebut dimanfaatkan oleh siapa pun di dalam Daerah Pabean.
        o     Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. (Pasal 1 angka 8 UU PPN No.42 TAHUN 2009)
                o     yang dimaksud dengan JKP dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean adalah: (angka 3 SE-147/PJ/2010)
                                       1.        JKP tersebut diserahkan oleh orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau berkedudukan di luar Daerah;
                                       2.        Pemberian JKP dapat dilakukan di dalam dan/atau di luar Daerah Pabean sepanjang kegiatan pemberian JKP tersebut tidak menyebabkan orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau berkedudukan di luar Daerah Pabean menjadi Subjek Pajak dalam negeri;
                             o     Dalam hal pemberian JKP yang dilakukan di dalam Daerah Pabean ini menyebabkan orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau berkedudukan di luar Daerah Pabean menjadi Subjek Pajak dalam negeri, maka pemberian JKP tersebut termasuk penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean.(angka 4 SE-147/PJ/2010)
                                       3.        Kegiatan pemanfaatan JKP yang berasal dari luar Daerah Pabean tersebut dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan
                                       4.        JKP yang berasal dari luar Daerah Pabean tersebut dimanfaatkan oleh siapa pun di dalam Daerah Pabean.
        o     Untuk pengertian BKP Tidak berwujud itu sendiri ada di Penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf g UU PPN No.42 TAHUN 2009

  1. TARIF PPN
        o     PPN dihitung dengan cara : (Pasal 3 ayat (1) PMK 40/PMK.03/2010)
                          1.        PPN = 10% dikalikan dengan jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan BKP tidak berwujud dan/atau JKP, jika dalam jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkantidak termasuk PPNATAU
                          2.        PPN = 10/110 dikalikan dengan jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan BKP tidak berwujud dan/atau JKP, jika dalam jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkansudah termasuk PPN.
                          3.        Dalam hal tidak ditemukan adanya kontrak atau perjanjian tertulis untuk jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkan atau ditemukan adanya kontrak atau perjanjian tertulis akan tetapi tidak dengan tegas dinyatakan bahwa dalam jumlah kontrak atau perjanjian sudah termasuk PPN, PPN yang terutang dihitung sebesar 10% dikalikan dengan jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean. (Pasal 3 ayat (2) PMK 40/PMK.03/2010)
        o     Dalam Hal Transaksi Dilakukan dalam Mata Uang Asing
o    Dalam hal transaksi atas pemanfaatan BKP Tidak berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean dilakukan dengan mempergunakan mata uang asing, penghitungan besarnya PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang, harus dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan mempergunakan kurs yang ditetapkan Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembuatan Faktur Pajak. (Pasal 14 PP 1 TAHUN 2012)
                o     SSP untuk pembayaran PPN atas pemanfaatan BKP tidak terwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean merupakan Dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak (Pasal 1 PER-27/PJ./2011)

  1. TATA CARA PENYETORAN PPN
    1. WAKTU DIPUNGUT DAN DISETORKANNYA PPN
                 o     wajib dipungut dan disetorkan seluruhnya ke Kas Negara melalui Kantor Pos atau Bank Persepsi dengan menggunakan SSP oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean Paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak (Pasal 6 ayat (1) PMK 40/PMK.03/2010)
                         o     Saat terutangnya PPN terjadi pada saat dimulainya pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean tersebut. (Pasal 4 PMK 40/PMK.03/2010)
                                 o     Saat dimulainya pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean adalah saat yang diketahui terjadi lebih dahulu dari peristiwa-peristiwa di bawah ini: (Pasal 5 ayat (1) PMK 40/PMK.03/2010)
                                                                    1.        saat BKP tidak berwujud dan/atau JKP tersebut secara nyata digunakan oleh pihak yang memanfaatkannya;
                                                                    2.        saat harga perolehan BKP tidak berwujud dan/atau JKP tersebut dinyatakan sebagai utang oleh pihak yang memanfaatkannya;
                                                                    3.        saat harga jual BKP tidak berwujud dan/atau penggantian JKP tersebut ditagih oleh pihak yang menyerahkannya; atau
                                                                    4.        saat harga perolehan BKP tidak berwujud dan/atau JKP tersebut dibayar baik sebagian atau seluruhnya oleh pihak yang memanfaatkannya.
                                 o     Dalam hal saat dimulainya pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean tidak diketahui, saat dimulainya pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean adalah tanggal ditandatanganinya kontrak atau perjanjian atau saat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. (Pasal 5 ayat (2) PMK 40/PMK.03/2010)
                 o     DALAM HAL WP TERLAMBAT MENYETOR PPN
                     o     Orang pribadi atau badan yang melakukan penyetoran PPN setelah melewati batas waktu, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai KUP yaitudikenai sanksi administrasi berupa bunga 2% per bulan. (Pasal 8 PMK 40/PMK.03/2010)
                     o     PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean yang terlambat disetor tersebut tetap dapat dikreditkan pada Masa Pajak saat terutangnya PPN atau pada Masa Pajak yang tidak sama, sesuai dengan ketentuan pengkreditan Pajak Masukan yang berlaku. (angka 11 SE-147/PJ/2010)
    1. CARA PENGISIAN SSP
                 o     Untuk Contoh pengisian SSP KLIK DISINI Lampiran II dan III SE-147/PJ/2010
                 o     Ketentuan pengisian SSP adalah : (Pasal 6 ayat (2) PMK 40/PMK.03/2010) dan angka 8 SE-147/PJ/2010
1.   pada kolom “Nama WP” dan “Alamat WP” diisi nama dan alamat orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau berkedudukan di luar Daerah Pabean  yang menyerahkan BKP tidak berwujud dan/ atau JKP ke dalam daerah pabean.
2.   pada kolom “NPWP” diisi dengan angka 0 (nol), kecuali kode KPP diisi dengan kode KPP dari pihak yang memanfaatkan BKP tidak berwujud dan/atau JKP.
3.   pada kotak “Wajib Pajak/Penyetor”diisi nama dan NPWP pihak yang memanfaatkan BKP tidak berwujud dan/atau JKP
4.   pada kolom "masa pajak" diisi dengan memberi tanda silang (x) pada salah satu kolom Masa Pajak untuk Masa Pajak saat terutangnya pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean.(angka 8 huruf d SE-147/PJ/2010)
5.   menggunakan MAP 411211 dan KJS:
                               o     101(untuk BKP tdk berwujud) atau
                               o     102 (untuk JKP)
6.   Dalam hal pengisian SSP untuk pembayaran PPN yang terutang atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean oleh WP tidak memenuhi ketentuan ini, maka pembayaran PPN tersebut tidak dapat dikreditkan. (angka 9 SE-147/PJ/2010)


  1. PELAPORAN DAN PENGKREDITAN PM BAGI PKP
    1. PKP
                 o     pembayaran dengan SSP dilaporkan sebagai Pajak Masukan di dalam SPT Masa pada bulan terutangnya pajak.(Pasal 7 ayat (1) PMK 40/PMK.03/2010 )
                     o     PPN yang terdapat dalam SSP tersebut merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan sepanjang :(Pasal 5 PER-67/PJ/2010)
                                                1.        Memenuhi ketentuan sebagai dokumen yang dapat diperssamakan dengan Faktur Pajak (memenuhi ketentuan cara pengisian SSP sesuai Pasal 6 ayat (2) PMK 40/PMK.03/2010)
                                                2.        Mencantumkan NPWP pihak yang memanfaatkan JKP dan/atau BKP tidak berwujud
                     o     Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan. (Pasal 9 ayat (9) UU PPN)
    1. Non PKP
                 o     pembayaran dengan SSP dilaporkan dengan menggunakan SSP lembar ke-3 paling lama akhir bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak ke KPP tempat WP terdaftar. (Pasal 7 ayat (3) PMK 40/PMK.03/2010)


  1. PPN ATAS PEMASUKAN FILM IMPOR (SE-3/PJ/2011)
        o     Atas pemasukan film impor akan terutang PPN yaitu :
                          1.        PPN atas pemasukan film impor, dipungut PPN impor, dengan DPP dari Nilai Impor; dan
                          2.        PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
                     o     karena Pemasukan film impor merupakan kegiatan pemanfaatan BKP Tidak Berwujud, berupa hasil karya sinematografi yang merupakan hak kekayaan intelektual yang disimpan dalam media baik berupa roll film ataupun media penyimpanan yang lain, dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean yang dikenai PPN
                     o     DPP yang digunakan untuk menghitung PPN yang terutang atas pemanfaatan film impor yang terutang pada saat pemasukan film tersebut adalah sebesar nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar, dikurangi dengan nilai impor


No comments:

Post a Comment