p

Thursday, October 27, 2016

Pembebasan PPN kepada perwakilan Negara asing dan Badan Internasional serta Pejabatnya

  1. DASAR HUKUM
    1. PP 47 TAHUN 2013 (berlak sejak 17 Juni 2013) tentang pemberian pembebasan pajak pertambahan nilai atau pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah kepada perwakilan negara asing dan badan internasional serta pejabatnya
    2. PMK-160/PMK.03/2014 (mulai berlaku setelah 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal 14 Agustus 2014)tentang tata cara pembayaran kembali PPN atau PPnBM yang seharusnya tidak diberikan pembebasan oleh perwakilan negara asing dan badan internasional serta pejabatnya
    3. PMK-161/PMK.03/2014 (mulai berlaku setelah 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal 14 Agustus 2014)tentang tata cara pengembalian PPN atau PPnBM yang telah dipungut kepada perwakilan negara asing dan badan internasional serta pejabatnya
    4. PMK-248/PMK.010/2015 (berlaku sejak 29 Desember 2015) tentang perubahan PMK-162/PMK.03/2014 (mulai berlaku setelah 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal 14 Agustus 2014)  tentang tata cara penerbitan surat keterangan bebas PPN atau PPnBM kepada perwakilan negara asing dan badan internasional serta pejabatnya
      • PMK ini mencabut KMK-25/KMK.01/1998 (berlaku sejak 27 Januari 1998) tentang pemberian resitusi/pembebasan PPN dan/atau PPnBM kepada perwakilan negara asing atau badan internasional serta pejabat/tenaga ahlinya


  1. SURAT EDARAN TERKAIT
    • SE-39/PJ/2014 tentang prosedur penerbitan surat keterangan bebas dan surat dispensasi serta prosedur pengembalian PPN atau PPN dan PPnBM kepada perwakilan negara asing dan badan internasional serta pejabatnya

  1. IMPOR ATAU PENYERAHAN BKP/JKP YANG DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PPN ATAU PPN DAN PPNBM
    1. Atas impor BKP oleh: (Pasal 2 ayat (1) PP 47 TAHUN 2013)
      1. Perwakilan Negara Asing serta Pejabat Perwakilan Negara Asing; dan
      2. Badan Internasional serta Pejabat Badan Internasional,
dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN dan PPnBM.
  1. Atas penyerahan BKP dan/atau JKP kepada: (Pasal 2 ayat (2) PP 47 TAHUN 2013)
    1. Perwakilan Negara Asing serta Pejabat Perwakilan Negara Asing; dan
    2. Badan Internasional serta Pejabat Badan Internasional,
dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN dan PPnBM.
  1. BKP adalah: (Pasal 2 ayat (3) PMK-162/PMK.03/2014)
    1. kendaraan bermotor; dan
      • Kendaraan bermotor adalah kendaraan bermotor roda empat. (Pasal 2 ayat (4) PMK-162/PMK.03/2014)
    2. selain kendaraan bermotor.

  1. DAFTAR ORGANISASI INTERNASIONAL YANG TIDAK TERMASUK SUBJEK PPH

  1. KETENTUAN PEMBEBASAN BAGI PERWAKILAN NEGARA ASING SERTA PEJABAT PERWAKILAN NEGARA ASING
    • Pembebasan PPN atau PPN dan PPnBM kepada Perwakilan Negara Asing serta Pejabat Perwakilan Negara Asing  diberikan berdasarkan asas timbal balik. (Pasal 3 ayat (1) PP 47 TAHUN 2013)
      • Penerapan asas timbal balik ini ditetapkan oleh Menteri Luar Negeri. (Pasal 3 ayat (2) PP 47 TAHUN 2013)
      • Pembebasan PPN atau PPN dan PPnBM hanya dapat diberikan oleh Menteri Keuangan setelah mendapat rekomendasi dari Menteri Luar Negeri atau pejabat yang ditunjuk(Pasal 3 ayat (2) PP 47 TAHUN 2013) dan (Pasal 4 ayat (3) PMK-162/PMK.03/2014)
        • PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP kepada Perwakilan Negara Asing dan Badan lnternasional serta Pejabatnya dapat dibebaskan dengan Surat Keterangan Bebas PPN atau PPN dan PPnBM yang diterbitkan oleh Kepala KPP Badan dan Orang Asing atas nama Direktur Jenderal Pajak. (Butir c angka 1 huruf a SE-39/PJ/2014)
        • Surat Keterangan Bebas PPN atau PPN dan PPnBM diperlukan untuk setiap kali penyerahan BKP dan/atau JKP. (Butir c angka 1 huruf b SE-39/PJ/2014)
      • Pembebasan PPN atau PPN dan PPnBM diberikan dengan mempertimbangkan batas minimum pembelian barang atau jasa di luar PPN yang ditetapkan suatu negara (minimum purchase requirement) dari Menteri Luar Negeri atau pejabat yang ditunjuk. (Pasal 4 ayat (4) PMK-162/PMK.03/2014)
      • Prosedur penerbitan Surat Keterangan Bebas PPN atau PPN dan PPnBM kepada Perwakilan Negara Asing dan Badan lnternasional serta Pejabatnya mengacu kepada Lampiran I SE-39/PJ/2014

  1. KETENTUAN PEMBEBASAN BAGI BADAN INTERNASIONAL SERTA PEJABAT BADAN INTERNASIONAL
    • Pembebasan PPN atau PPN dan PPnBM kepada Badan Internasional hanya diberikan kepada Badan Internasional yang: (Pasal 4 ayat (1) PP 47 TAHUN 2013) dan (Pasal 5 ayat (3) PMK-162/PMK.03/2014)
      1. tidak termasuk subjek Pajak Penghasilan sebagaimana diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan Pajak Penghasilan; dan
      2. mendapatkan rekomendasi dari Menteri Sekretaris Negara atau pejabat yang ditunjuk..
    • Kerjasama teknik yang dilaksanakan oleh Badan Internasional yang dapat diberikan pembebasan PPN atau PPN dan PPnBM meliputi bantuan-bantuan berupa hibah/sumbangan dari luar negeri dalam kerangka kerjasama di bidang teknik, ilmu pengetahuan, sosial, kebudayaan, dan ekonomi, tidak termasuk di dalamnya kredit-kredit dan penanaman modal asing. (Pasal 5 ayat (2) PMK-162/PMK.03/2014)
    • Pembebasan PPN atau PPN dan PPnBM kepada Pejabat Badan Internasional hanya diberikan kepada Pejabat Badan Internasional dalam hal :
      1. Badan Internasional tempat pejabat dimaksud bekerja tidak termasuk subjek Pajak Penghasilan sebagaimana diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan Pajak Penghasilan; dan
      2. Pejabat dimaksud mendapatkan rekomendasi dari Menteri Sekretaris Negara atau pejabat yang ditunjuk.(Pasal 4 ayat (2) PP 47 TAHUN 2013) dan (Pasal 5 ayat (3) PMK-162/PMK.03/2014)
    • PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP kepada Perwakilan Negara Asing dan Badan lnternasional serta Pejabatnya dapat dibebaskan dengan Surat Keterangan Bebas PPN atau PPN dan PPnBMyang diterbitkan oleh Kepala KPP Badan dan Orang Asing atas nama Direktur Jenderal Pajak. (Butir c angka 1 huruf a SE-39/PJ/2014)
    • Surat Keterangan Bebas PPN atau PPN dan PPnBM diperlukan untuk setiap kali penyerahan BKP dan/atau JKP. (Butir c angka 1 huruf b SE-39/PJ/2014)
    • Pembebasan PPN atau PPN dan PPnBM kepada Badan Internasional serta Pejabat Badan Internasional diberikan dengan mempertimbangkan batas minimum pembelian barang atau jasa di luar PPN yang ditetapkan suatu negara (minimum purchase requirement) dari Menteri Sekretaris Negara atau pejabat yang ditunjuk. (Pasal 5 ayat (4) PMK-162/PMK.03/2014)
    • Prosedur penerbitan Surat Keterangan Bebas PPN atau PPN dan PPnBM kepada Perwakilan Negara Asing dan Badan lnternasional serta Pejabatnya mengacu kepada Lampiran I SE-39/PJ/2014

  1. DALAM HAL PPN ATAU PPnBM TELAH TERLANJUR DIPUNGUT
    • Dalam hal PPN atau PPN dan PPnBM yang dibebaskan telah dipungut, PPN atau PPN dan PPnBM tersebut dapat diminta kembali sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (Pasal 6 ayat (1) PP 47 TAHUN 2013)
      • PPN atau PPN dan PPnBM yang diminta kembali, diajukan oleh Perwakilan Negara Asing, Pejabat Perwakilan Negara Asing, Badan Internasional, serta Pejabat Badan Internasional kepada Menteri Keuangan dan harus disertai dengan rekomendasi dari Menteri Luar Negeri atau Menteri Sekretaris Negara. (Pasal 6 ayat (2) PP 47 TAHUN 2013)
    • Pengajuan permintaan pengembalian PPN atau PPN dan PPnBM dapat dilakukan: (Butir c angka 1 huruf d SE-39/PJ/2014)
      1. oleh perwakilan negara asing dan Badan lnternasional serta pejabatnya, paling lama satu tahun sejak impor BKP atau penyerahan BKP dan/atau JKP; atau
      2. oleh perwakilan negara asing serta pejabat perwakilan negara asing, lebih dari satu tahun namun tidak lebih dari empat tahun sejak impor BKP atau penyerahan BKP dan/atau JKP dengan dilengkapi pertimbangan dari Menteri Luar Negeri atau pejabat yang ditunjuk.
    • Prosedur pengembalian PPN atau PPN dan PPnBM yang telah dipungut kepada Perwakilan Negara Asing dan Badan lnternasional serta Pejabatnya mengacu kepada Lampiran III SE-39/PJ/2014

  1. DALAM HAL BKP/JKP YANG DIBEBASKAN DIPINDAHTANGANKAN
    1. Apabila BKP yang atas perolehannya dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN dan PPnBM dipindahtangankan dalam jangka waktu 4 (empat) tahun sejak diimpor atau diperoleh, PPN atau PPN dan PPnBM yang dibebaskanwajib dibayar kembali dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak saat Barang Kena Pajak dipindahtangankan. (Pasal 7 ayat (1) PP 47 TAHUN 2013)
    2. Apabila JKP yang atas perolehannya dibebaskan dari pengenaan PPN dialihmanfaatkan kepada pihak lain, PPN yang dibebaskan wajib dibayar kembali dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak dialihmanfaatkan kepada pihak lain. (Pasal 7 ayat (2) PP 47 TAHUN 2013)
    3. PPN atau PPN dan PPnBM yang dibayar kembali ini, tidak dapat dimintakan kembali. (Pasal 2 ayat (3) PMK-160/PMK.03/2014)
    4. Cara Pembayaran Kembali : (Pasal 3 ayat (3) dan (4) PMK-160/PMK.03/2014)
      1. Pembayaran kembali disetorkan ke Kas Negara dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak (SSPCP).
      2. Pengisian Surat Setoran Pajak sesuai dengan petunjuk Lampiran I PMK-160/PMK.03/2014
        • No.Nama KolomDiisi Dengan :
          1.NPWPDiisi dengan OO.OOO.OOO.O.XXX.OOO. (XXX adalah kode KPP Badan dan Orang Asing). Dalam hal Perwakilan Negara Asing, Badan Internasional, Pejabat Perwakilan Negara Asing, atau Pejabat Badan Internasional yang melakukan pembayaran kembali memiliki NPWP, maka diisi dengan NPWP Perwakilan Negara Asing, Badan Internasional, atau pejabat  tersebut.
          2.Nama WPDiisi dengan nama Perwakilan Negara Asing, Badan Internasional, Pejabat Perwakilan Negara Asing, atau Pejabat Badan Internasional yang melakukan pembayaran kembali.
          3.Alamat WPDiisi dengan alamat Perwakilan Negara Asing, Badan Internasional, Pejabat Perwakilan Negara Asing, atau Pejabat Badan Internasional yang melakukan pembayaran kembali di Indonesia.
          4.Kode Akun PajakDiisi dengan 411211 untuk PPN atau  411221 untuk PPnBM
          5.Kode jenis SetoranDiisi dengan 199
          6.Uraian PembayaranDiisi dengan "Pembayaran kembali PPN atau PPnBM atas SKB j SKPLB PPN atau PPN dan PPnBM Nomor .... tanggal. ....
          7.Masa PajakDiisi dengan Masa Pajak terjadinya pemindahtanganan Barang Kena Pajak atau pengalihmanfaatan Jasa Kena Pajak.
          8.Tahun PajakDiisi dengan Tahun Pajak terjadinya pemindahtanganan Barang Kena Pajak atau pengalihmanfaatan Jasa Kena Pajak.
          9.Jumlah PembayaranDiisi dengan jumlah PPN atau PPnBM yang dibayar
          10.TanggalDiisi dengan tanggal dilakukan pembayaran.
          11.Nama JelasDiisi dengan nama penyetor.
    5. Dalam hal pemindahtanganan atau pengalihmanfaatan ini dilakukan kepada sesama Perwakilan Negara Asing, Badan Internasional, dan/atau pejabatnya, PPN atau PPN dan PPnBM yang dibebaskan tidak perlu dibayar kembali. (Pasal 7 ayat (3) PP 47 TAHUN 2013)
      • Ketentuannya :
        1. Perwakilan Negara Asing, Badan Internasional, Pejabat Perwakilan Negara Asing, dan/atau Pejabat Badan Internasional penerima pemindahtanganan BKP atau penerima pengalihmanfaatan JKP ini mengajukan permohonan Surat Dispensasi kepada Menteri Keuangan melalui:
          1. Menteri Luar Negeri atau pejabat yang ditunjuk; atau
          2. Menteri Sekretaris Negara atau pejabat yang ditunjuk.
        2. Menteri Luar Negeri atau Menteri Sekretaris Negara atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan permohonan Surat Dispensasi kepada Kepala KPP Badan dan Orang Asing dengan dilampiri: (Pasal 4 ayat (4) PMK-160/PMK.03/2014)
          1. Surat rekomendasi dari Menteri Luar Negeri atau Menteri Sekretaris Negara atau Pejabat yang ditunjuk;
          2. Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) atas BKP yang dipindahtangankan atau JKP yang dialihmanfaatkan;
          3. Invoice pada saat perolehan atau dokumen yang dapat dipersamakan; dan
          4. Bukti-bukti pendukung yang dipersyaratkan oleh Kementerian Luar Negeri atau Kementerian Sekretariat Negara.
        3. Prosedur penerbitan Surat Dispensasi kepada Perwakilan Negara Asing dan Badan lnternasional serta Pejabatnya mengacu kepada Lampiran II SE-39/PJ/2014
      • Yang dilakukan DJP setelah menerima permohonan Surat Dispensasi :
        1. Direktur Jenderal Pajak menugaskan Kepala KPP Badan dan Orang Asing untuk melakukan penelitian terhadap permohonan Surat Dispensasi.
        2. Kepala KPP Badan dan Orang Asing atas nama Direktur Jenderal Pajak harus memberikan keputusan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak permohonan Surat Dispensasi diterima.
        3. Keputusan dapat berupa:
          1. Surat Dispensasi, dalam hal permohonan dikabulkan; atau
          2. Surat penolakan, dalam hal permohonan tidak dikabulkan.
        4. Tata cara pemberian dan penatausahaan Surat Dispensasi adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran II PMK-160/PMK.03/2014
        5. Bentuk dan petunjuk pengisian Surat Dispensasi adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran III PMK-160/PMK.03/2014
    6. Dalam hal pemindahtanganan BKP berupa kendaraan bermotorPPN atau PPN dan PPnBM atas impor atau perolehannya dapat tidak dibayar kembali apabila Perwakilan Negara Asing atau Badan Internasional serta pejabatnya yang menerima kendaraan bermotor tersebut memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai tata cara penerbitan SKB PPN atau PPN dan PPnBMkepada Perwakilan Negara Asing dan Badan Internasional serta Pejabatnya. (Pasal 4 ayat (2) PMK-160/PMK.03/2014)

  1. KODE TRANSAKSI YANG DIGUNAKAN PADA FAKTUR PAJAK YANG DIBUAT OLEH PIHAK YANG MELAKUKAN PENYERAHAN BKP DAN/ATAU JKP
    • Kode 08 digunakan untuk penyerahan BKP dan/ atau JKP yang mendapat fasilitas Dibebaskan dari pengenaan PPN, salah satunya adalah mengenai pemberian pembebasan PPN dan/ atau PPnBM kepada Perwakilan Negara Asing dan Badan Internasional serta pejabatnya (Lampiran III Huruf B PER-24/PJ/2012)

KETENTUAN TERKAIT PEMBEBASAN PPN INI SEBELUM PP 47 TAHUN 2013 DITERBITKAN
  1. PPN DAN/ATAU PPnBM DIBEBASKAN (KMK-25/KMK.01/1998 Pasal 1)
    1. PPN/PPnBM dibebaskan atas pembelian BKP atau perolehan JKP yang dilakukan oleh :
      1. Perwakilan Negara Asing
      2. Badan Internasional di Indonesia yang memperoleh kekebalan diplomatik serta Pejabat/Tenaga Ahlinya
    2. Pembebasan PPN dan/atau PPn BM kepada Perwakilan Negara Asing hanya diberikan atas dasar azas timbal balik. (KMK-25/KMK.01/1998 Pasal 1 ayat 2)
    3. Perwakilan Negara Asing/ Badan Internasional serta Pejabat/Tenaga Ahlinya yang ingin memperoleh pembebasan PPN/PPnBM harus mengajukan permohonan rekomendasi pembebasan PPN/PPnBM kepada Departemen Luar Negeri atau Sekretariat Kabinet RI sesuai dengan wewenangnya, dengan melampirkan bukti-bukti pendukungnya. (bukti-bukti pendukung seperti: surat permohonan pembebasan dari yang bersangkutan, Faktur Pajak, Perjanjian Kerjasama Teknik, dsb).
      (Angka 1 S-2678/PJ.55/1993)
    4. Kemudian Departemen Luar Negeri atau Sekretariat Kabinet RI mengirim langsung surat rekomendasi ke KPP Badan dan Orang Asing (BADORA) dengan dilampiri bukti-bukti pendukungnya, seperti bukti-bukti pendukung seperti: surat permohonan pembebasan dari yang bersangkutan, Faktur Pajak, Perjanjian Kerjasama Teknik, dsb untuk diteliti dan diproses lebih lanjut.
      (Angka 2 S-2678/PJ.55/1993).
    5. Kemudian KPP BADORA akan memproses permohonan pembebasan PPN/PPnBM tersebut, dan baik persetujuan maupun penolakkannya, dilakukan dengan menerbitkan surat kepada pemohon (Perwakilan Negara Asing, Badan Internasional, Pejabat atau Tenaga Ahlinya). (selengkapnya dapat dilihat di Angka 3 & 5 S-2678/PJ.55/1993)

  1. PENGAJUAN PERMOHONAN PERMINTAAN KEMBALI PPN/PPnBM
    1. Dalam hal PPN dan/atau PPnBM terlanjur dipungut, maka PPN dan/atau PPnBM yang terlanjur dipungut tersebut dapat dimintakan kembali.
    2. Permohonan diajukan oleh pihak terpungut (perwakilan negara asing atau badan internasional di Indonesia yang memperoleh kekebalan diplomatik serta Pejabat/Tenaga Ahlinya) kepada Direktur Jenderal Pajak dan harus disertai dengan rekomendasi dari Departemen Luar Negeri atau Sekretariat Kabinet. (KMK-25/KMK.01/1998Pasal 2)

No comments:

Post a Comment