p

Monday, December 19, 2016

Antara Kawasan Bebas dengan TLDDP (Terkait BKP berwujud)

  1. KETENTUAN PERPAJAKAN ANTARA KAWASAN BEBAS DENGAN TLDDP
    1. PEMASUKAN BKP DARI TLDDP KE KAWASAN BEBAS (TIDAK DIPUNGUT PPN)
      • Ketentuan perpajakannya adalah :
        1. Pemasukan BKP dari TLDDP ke Kawasan Bebas melalui pelabuhan atau bandar udara yang ditunjuk, tidak dipungut PPN atau PPN dan PPnBM. (Pasal 10 ayat (1) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Ketentuan ini juga berlaku untuk pemasukan BKP dan penyerahan JKP yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan dibebaskan dari pengenaan PPN. (Pasal 10 ayat (10) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Ketentuan ini tidak berlaku untuk pemasukan BKP yang telah dilunasi PPN dengan menggunakan stiker lunas PPN, dan Bahan Bakar Minyak bersubsidi. (Pasal 10 ayat (11) PMK-62/PMK.03/2012)
        2. Atas pemasukan BKP dari TLDDP ke Kawasan Bebas wajib dibuatkan Faktur Pajak yang diisi lengkap sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (5) UU PPN. (Pasal 11 ayat (1) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Termasuk dalam pengertian Faktur Pajak ini adalah dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) UU PPN.(Pasal 11 ayat (2) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Faktur Pajak dibuat paling lambat pada saat pengiriman BKP ke Kawasan Bebas. (Pasal 11 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Faktur Pajak ini harus diberi cap “PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 10 TAHUN 2012” oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan. (Pasal 11 ayat (6) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Ketentuan terkait kewajiban pembuatan Faktur Pajak ini tidak berlaku atas pemasukan BKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b dan pemasukan kembali BKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a PMK 62/PMK.03/2012. (Pasal 11 ayat (7) PMK-62/PMK.03/2012)
        3. Fasilitas PPN atau PPN dan PPnBM tidak dipungut diberikan sepanjang BKP Berwujud tersebut benar-benar telah masuk di Kawasan Bebas yang dibuktikan dengan dokumen yang telah diberikan Endorsement oleh pejabat/pegawai Direktorat Jenderal Pajak.  (Pasal 12 ayat (1) PMK-62/PMK.03/2012)
          1. Dokumen yang harus disampaikan dalam rangka Endorsement oleh pejabat/petugas Direktorat Jenderal Pajak adalah Pemberitahuan Pabean (PP FTZ-03) yang telah didaftarkan pada kantor pabean. (Lampiran IV PMK-62/PMK.03/2012)
            • Pemberitahuan pabean (PP FTZ-03) ini disampaikan dengan  dilampiri :  (Pasal 12 ayat (2) PMK-62/PMK.03/2012)
              1. Foto kopi Faktur Pajak (lembar pembeli) yang telah diberi cap "PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 10 TAHUN 2012"
              2. Foto kopi Bill of Lading atau Airway Bill atau Delivery Order
              3. Foto kopi Faktur Penjualan atau Invoice,
            • Penyampaian lampiran Pemberitahuan pabean (PP FTZ-03) ini harus disertai dengan menunjukkan dokumen aslinya. (Pasal 12 ayat (4) PMK-62/PMK.03/2012)
            • Dalam hal pengurusan Pemberitahuan Pabean dilakukan oleh pengusaha pengurusan jasa kepabeanan, dokumen yang harus disampaikan dalam rangka Endorsement ini harus dilampiri dengan surat kuasa dari pengusaha yang melakukan pemasukan Barang Kena Pajak ke Kawasan Bebas. (Pasal 12 ayat (5) PMK-62/PMK.03/2012)
            • Dalam hal Pemberitahuan Pabean tidak sesuai dengan dokumen-dokumen yang harus dilampirkan dalam rangka Endorsement, BKP tetap dapat dikeluarkan dari pelabuhan/bandar udara yang ditunjuk dan atas pemasukan BKP tidak dapat diberikan fasilitas PPN atau PPN dan PPnBM tidak dipungut.  (Pasal 12 ayat (6) PMK-62/PMK.03/2012)
          2. Dokumen yang harus disampaikan dalam rangka Endorsement untuk pemasukan BKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a dan huruf b PMK 62/PMK.03/2012adalah Pemberitahuan Pabean yang telah didaftarkan pada Kantor Pabean, yang dilampiri dengan: (Pasal 12 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
            1. PPBTT yang telah disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat pengusaha di tempat lain dalam Daerah Pabean terdaftar beserta lampirannya; dan
            2. fotokopi Bill of LadingAirway Bill, atau Delivery Order.
          3. Proses endorsement paling lama 1 hari kerja sejak dokumen-dokumen yang harus disampaikan diterima lengkap (Lampiran IV PMK-62/PMK.03/2012)     
          4. Terkait tata cara endorsement KLIK DISINI LAMPIRAN IV PER-62/PMK.03/2012
    2. PENGELUARAN BKP DARI KAWASAN BEBAS KE TLDDP (TERUTANG PPN)
      • Ketentuan umum :
        1. Barang asal luar Daerah Pabean yang akan dikeluarkan dari Kawasan Bebas ke TLDDP wajib dilunasi bea masuk, PPN, dan/atau PPh Pasal 22 UU PPh. (Pasal 19 ayat (1) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
        2. Barang asal Kawasan Bebas dan tempat lain dalam Daerah Pabean yang akan dikeluarkan dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean, wajib dilunasi PPN. (Pasal 19 ayat (2) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
        3. Barang yang akan dikeluarkan dari Kawasan Bebas ke TLDDP wajib diberitahukan dengan Pemberitahuan Pabean. (Pasal 22 ayat (1) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      • Ketentuan perpajakannya adalah :
        1. BKP yang dikeluarkan dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean terutang PPN(Pasal 2 ayat (1) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Dalam hal BKP merupakan BKP yang tergolong mewah, atas pengeluaran BKP dimaksud terutang PPN dan PPnBM. (Pasal 2 ayat (2) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Mekanisme ketentuannya :
            1. Saat terutang pajak adalah pada saat BKP dikeluarkan dari Kawasan Bebas. (Pasal 2 ayat (4) PMK-62/PMK.03/2012)
            2. Dasar Pengenaan Pajak atas PPN yang terutang dan PPnBM yang terutang adalah: (Pasal 2 ayat (5) PMK-62/PMK.03/2012)
              1. Harga Jual; atau
              2. Harga Pasar Wajar dalam hal pengeluaran barang tersebut bukan dalam rangka transaksi jual beli.
            3. Cara Penyetoran PPN
              1. PPN atau PPN dan PPnBM disetor ke kas negara oleh Orang yang mengeluarkan BKP melalui kantor pos atau bank persepsi yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan menggunakan SSP(Pasal 2 ayat (6) PMK-62/PMK.03/2012)
              2. SSP diisi dengan cara: (Pasal 2 ayat (7) PMK-62/PMK.03/2012)
                • pada kolom nama dan kolom NPWP diisi dengan nama dan NPWP Orang yang menerima BKP;
                • pada kolom Wajib Pajak/penyetor dicantumkan juga nama dan NPWP Orang yang mengeluarkan BKP.
            4. Saat Penyetoran
              • Penyetoran PPN atau PPN dan PPnBM dilakukan paling lama pada saat BKP tersebut dikeluarkan dari Kawasan Bebas. (Pasal 2 ayat (8) PMK-62/PMK.03/2012)
            5. SSP yang dilampiri dengan invoice dan Pemberitahuan Pabean merupakan dokumen yang dipersamakan dengan Faktur Pajak. (Pasal 2 ayat (9) PMK-62/PMK.03/2012)
              • PPN yang telah dibayar dengan menggunakan SSP yang dilampiri dengan invoice dan Pemberitahuan Pabean ini merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh PKP yang menerima BKP sesuai peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (Pasal 2 ayat (10) PMK-62/PMK.03/2012)
            6. Syarat agar BKP dapat dikeluarkan dari kewasan bebas ke TLDDP
              • BKP dapat dikeluarkan dari Kawasan Bebas ke TLDDP sepanjang telah dipenuhi kewajiban pabean sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan kepabeanan. (Pasal 5 ayat (1) PMK-62/PMK.03/2012)
              • Termasuk dalam pemenuhan kewajiban pabean ini adalah penyampaian Pemberitahuan Pabean yang dilampiri dengan: invoice atau faktur penjualan atau dokumen penyerahan barang dalam hal barang tersebut bukan dalam rangka transaksi jual beli; dan SSP (Pasal 5 ayat (2) PMK-62/PMK.03/2012)
          • Untuk Contoh penghitungannya KLIK DISINI Lampiran III Romawi II PMK-62/PMK.03/2012)
        2. Jenis pengeluaran yang Dikecualikan dari kewajiban Pembayaran PPN
          • Dikecualikan dari dari kewajiban Pembayaran PPN atau PPN dan PPnBM yaitu terhadap pengeluaran barang untuk transaksi tertentu: (Pasal 3 PMK-62/PMK.03/2012)
            1. Pengeluaran dari Kawasan Bebas oleh pengusaha atas BKP yang berhubungan dengan kegiatan usahanya ke TLDDP yang dalam jangka waktu tertentu akan dimasukkan kembali ke Kawasan Bebas berupa mesin dan/atau peralatan untuk:
              1. kepentingan produksi atau pengerjaan proyek infrastruktur;
              2. keperluan perbaikan, pengerjaan, pengujian, atau kalibrasi; dan/atau
              3. keperluan peragaan atau demonstrasi;
                • Batas waktu pemasukan kembali BKP ke Kawasan Bebas ini adalah paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Pemberitahuan Pabean. (Pasal 3 ayat (2) PMK-62/PMK.03/2012)
                • Untuk pengeluaran BKP ini, kewajiban melampirkan SSP diganti dengan melampirkan: (Pasal 5 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
                  1. Pemberitahuan Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT) yang telah disetujui oleh Kepala KPP tempat pengusaha di TLDDP terdaftar dan surat persetujuan keterangan asal barang dari Badan Pengusahaan Kawasan untuk pengeluaran BKP selain BKP asal luar Daerah Pabean;
                  2. SKB PPN untuk pengeluaran BKP yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan untuk mendapatkan fasilitas dimaksud;
            2. Pengeluaran kembali dari Kawasan Bebas oleh pengusaha atas BKP asal TLDDP yang berhubungan dengan kegiatan usahanya berupa mesin dan/atau peralatan untuk:
              1. kepentingan produksi atau pengerjaan proyek infrastruktur;
              2. keperluan perbaikan, pengerjaan pengujian, atau kalibrasi; dan/atau
              3. keperluan peragaan atau demonstrasi;
                • batas waktu pengeluaran kembali BKP dari Kawasan Bebas ini adalah paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Pemberitahuan Pabean. (Pasal 3 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
                • Untuk pengeluaran BKP ini, kewajiban melampirkan SSP diganti dengan melampirkan: (Pasal 5 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
                  1. Pemberitahuan Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT) yang telah disetujui oleh Kepala KPP tempat pengusaha di TLDDP terdaftar dan surat persetujuan keterangan asal barang dari Badan Pengusahaan Kawasan untuk pengeluaran BKP selain BKP asal luar Daerah Pabean;
                  2. SKB PPN untuk pengeluaran BKP yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan untuk mendapatkan fasilitas dimaksud;
            3. Pengeluaran BKP untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu minyak dan gas bumi serta panas bumi yang atas impornya Pajak Pertambahan Nilai yang terutang tidak dipungut, dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai ditanggung Pemerintah sebagaimana ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang pengeluaran Barang Kena Pajak tersebut tidak untuk tujuan pengalihan hak;
              • Untuk pengeluaran BKP ini, kewajiban melampirkan SSP diganti dengan melampirkan:(Pasal 5 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
                1. Pemberitahuan Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT) yang telah disetujui oleh Kepala KPP tempat pengusaha di TLDDP terdaftar;
                2. SKB PPN untuk pengeluaran BKP yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan untuk mendapatkan fasilitas dimaksud;
                3. masterlist atau dokumen dengan nama lain yang mempunyai fungsi sama dengan masterlist untuk perusahaan kontraktor minyak dan gas bumi serta panas bumi.
            4. Pengeluaran BKP, yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan atas impor dan/atau penyerahannya tidak dipungut atau dibebaskan dari pengenaan PPN;
              • Untuk pengeluaran BKP ini, kewajiban melampirkan SSP diganti dengan melampirkan:(Pasal 5 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
                1. Pemberitahuan Pemasukan/ Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT) yang telah disetujui oleh Kepala KPP tempat pengusaha di TLDDP terdaftar;
                2. SKB PPN untuk pengeluaran BKP yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan untuk mendapatkan fasilitas dimaksud;
              • Untuk pengeluaran BKP yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan ditentukan bahwa untuk mendapatkan fasilitas dibebaskan dimaksud tidak memerlukan SKB PPN, maka Kewajiban untuk melampirkan SSP tidak berlaku (Pasal 5 ayat (4) PMK-62/PMK.03/2012)
            5. Pengeluaran BKP yang telah dilunasi PPNnya dengan menggunakan stiker lunas PPN; dan
              • Untuk pengeluaran BKP ini, Kewajiban untuk melampirkan SSP tidak berlaku (Pasal 5 ayat (4) PMK-62/PMK.03/2012)
            6. Pengeluaran BKP berupa pengemas yang dipakai berulang-ulang (returnable package).
              • Untuk pengeluaran BKP ini, Kewajiban untuk melampirkan SSP tidak berlaku (Pasal 5 ayat (4) PMK-62/PMK.03/2012)
        3. Dikecualikan dari pengenaan PPN atas pengeluaran BKP dengan tujuan angkut terus atau angkut lanjut dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas untuk tujuan tempat lain dalam Daerah Pabean. (Pasal 4 PMK-62/PMK.03/2012)
          • "barang diangkut terus" adalah barang yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui kantor pabean tanpa dilakukan pembongkaran terlebih dulu menuju pelabuhan tujuan akhir pengangkutan barang (port of destination)(Pasal 13 ayat (1) huruf b PP Nomor 10 TAHUN 2012)
          • "barang diangkut lanjut" adalah barang yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui kantor pabean dengan dilakukan pembongkaran terlebih dulu menuju pelabuhan tujuan akhir pengangkutan barang (port of destination). (Pasal 13 ayat (1) huruf b PP Nomor 10 TAHUN 2012)

No comments:

Post a Comment