p

Monday, December 19, 2016

Badan Usaha Tertentu (Mulai tanggal 1 April 2015)

  1. DASAR HUKUM
    1. Pasal 16A UU Nomor 42 TAHUN 2009 (berlaku sejak 1 April 2010) tentang perubahan ketiga atas UU Nomor 8 TAHUN 1983 tentang PPN barang dan jasa dan PPnBM
    2. PMK-37/PMK.03/2015 (Berlaku sejak 1 April 2015) tentang penunjukan badan usaha tertentu untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM, serta tata cara pemungutan, penyetoran, dan pelaporannya


  1. BADAN USAHA TERTENTU YANG DITUNJUK SEBAGAI PEMUNGUT PPN
    • Badan usaha tertentu ditunjuk sebagai pemungut PPN atau PPN dan PPnBM meliputi: Dalam hal badan usaha tertentu ini melakukan perubahan nama badan usaha, badan usaha tertentu tersebut tetap ditunjuk sebagai Pemungut PPN atau PPN dan PPnBM (Pasal 1 ayat (2) PMK-37/PMK.03/2015)
      1. badan usaha milik negara yang dilakukan restrukturisasi oleh Pemerintah setelah berlakunya Peraturan Menteri ini, dan restrukturisasi tersebut dilakukan melalui pengalihan saham milik negara kepada badan usaha milik negara lainnya;
      2. badan usaha yang bergerak di bidang pupuk, yang telah dilakukan restrukturisasi oleh Pemerintah yaitu PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Kalimantan Timur, dan PT Pupuk Iskandar Muda;
        • Dalam hal badan usaha tertentu ini melakukan perubahan nama badan usaha, badan usaha tertentu tersebut tetap ditunjuk sebagai Pemungut PPN atau PPN dan PPnBM (Pasal 1 ayat (3) PMK-37/PMK.03/2015)
      3. badan usaha tertentu yang dimiliki secara langsung oleh badan usaha milik negara yaitu PT Telekomunikasi Selular, PT Indonesia Power, PT Pembangkitan Jawa-Bali, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, PT Elnusa Tbk, PT Krakatau Wajatama, PT Rajawali Nusindo, PT Wijaya Karya Beton Tbk, PT Kimia Farma Apotek, PT Badak Natural Gas Liquefaction, PT Kimia Farma Trading & Distribution, PT Tambang Timah, PT Terminal Petikemas Surabaya, PT Indonesia Comnets Plus, Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah, dan Bank BNI Syariah.
        • Dalam hal badan usaha tertentu ini melakukan perubahan nama badan usaha, badan usaha tertentu tersebut tetap ditunjuk sebagai Pemungut PPN atau PPN dan PPnBM (Pasal 1 ayat (3) PMK-37/PMK.03/2015)
    • Dalam hal badan usaha tertentu tersebut tidak lagi dimiliki secara langsung oleh badan usaha milik negara, badan usaha tertentu dimaksud tidak lagi ditunjuk sebagai pemungut PPN atau PPN dan PPnBM (Pasal 1 ayat (4) PMK-37/PMK.03/2015)

  1. OBJEK PEMUNGUTAN PPN (Pasal 2 PMK-37/PMK.03/2015)
    • PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak oleh rekanan kepada badan usaha tertentu dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh badan usaha tertentu.
    • Rekanan merupakan Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak kepada badan usaha tertentu.

  1. TARIF PPN dan PPnBM (Pasal 3 PMK-37/PMK.03/2015)
    • Jumlah PPN yang harus dipungut oleh badan usaha tertentu adalah sebesar 10% (sepuluh persen) dikalikan dengan Dasar Pengenaan Pajak.
    • Dalam hal atas penyerahan BKP selain terutang PPN juga terutang PPnBM, jumlah PPnBM yang harus dipungut oleh badan usaha tertentu adalah sebesar tarif PPnBM yang berlaku dikalikan dengan Dasar Pengenaan Pajak.

  1. PPN YANG TIDAK DIPUNGUT OLEH BADAN USAHA TERTENTU
    • PPN atau PPN dan PPnBM tidak dipungut oleh badan usaha tertentu dalam hal: PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh rekanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (Pasal 4 ayat (1) PMK-37/PMK.03/2015)
      1. pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) termasuk jumlah PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah;
        • PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh rekanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (Pasal 4 ayat (2) PMK-37/PMK.03/2015)
      2. pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang menurut ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan mendapat fasilitas PPN tidak dipungut atau dibebaskan dari pengenaan PPN;
        • PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh rekanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (Pasal 4 ayat (2) PMK-37/PMK.03/2015)
      3. pembayaran atas penyerahan bahan bakar minyak dan bahan bakar bukan minyak oleh PT Pertamina (Persero);
        • PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh rekanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (Pasal 4 ayat (2) PMK-37/PMK.03/2015)
      4. pembayaran atas rekening telepon;
        • PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh rekanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (Pasal 4 ayat (2) PMK-37/PMK.03/2015)
      5. pembayaran atas jasa angkutan udara yang diserahkan oleh perusahaan penerbangan; dan/atau
        • PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh rekanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (Pasal 4 ayat (2) PMK-37/PMK.03/2015)
      6. pembayaran lainnya untuk penyerahan barang dan/atau jasa yang menurut ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan tidak dikenai PPN atau PPN dan PPnBM

  1. YANG MEMBUAT FP DAN SAAT PEMBUATAN FP (Pasal 5 PMK-37/PMK.03/2015)
    • Rekanan wajib membuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan BKP dan/atau JKP kepada badan usaha tertentu.
    • Faktur Pajak ini harus dibuat pada saat:
      1. penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKKP;
      2. penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP; atau
      3. penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan.

  1. TATA CARA PEMUNGUTAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN
    1. PEMUNGUTAN  DAN PENYETORAN (Pasal 6 ayat (1) PMK-37/PMK.03/2015)
      • Pemungutan PPN atau PPN dan PPnBM dilakukan pada saat:
        1. penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKKP;
        2. penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP; atau
        3. penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan.
      • Badan usaha tertentu wajib menyetorkan PPN atau PPN dan PPnBM yang telah dipungut ke Kantor Pos/Bank Persepsi paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
      • Tata Caranya : (Lampiran PMK-37/PMK.03/2015)
        1. Rekanan wajib membuat Faktur Pajak dan SSP atas setiap penyerahan BKP dany atau JKP kepada badan usaha tertentu.
        2. Faktur Pajak dibuat sesuai dengan ketentuan di bidang perpajakan.
        3. SSP diisi dengan membubuhkan NPWP serta identitas Rekanan, tetapi penandatanganan SSP dilakukan oleh badan usaha tertentu sebagai penyetor atas nama Rekanan.
        4. Dalam hal penyerahan BKP selain terutang PPN juga terutang PPnBM, Rekanan harus mencantumkan juga jumlah PPnBM yang terutang pada Faktur Pajak.
        5. Faktur Pajak dibuat dalam rangkap 2 (dua) dengan peruntukkan sebagai berikut:
          1. Iembar kesatu untuk badan usaha tertentu; dan
          2. lembar kedua untuk Rekanan .
        6. SSP dibuat dalam rangkap 4 (empat) dengan peruntukkan sebagai berikut:
          1. lembar kesatu untuk Rekanan;
          2. Iembar kedua untuk KPPN melalui Bank Persepsi atau Kantor Pos;
          3. Iembar ketiga untuk Rekanan yang dilampirkan pada SPT Masa PPN;
            dan
          4. Iembar keempat untuk Bank Persepsi atau Kantor Pos.
        7. Badan usaha tertentu yang melakukan pemungutan PPN atau PPN dan PPnBM harus membubuhkan cap "Disetor Tanggal......." dan menandatanganinya pada Faktur Pajak.
        8. Faktur Pajak dan SSP merupakan bukti pemungutan dan penyetoran PPN atau PPN dan PPnBM.
    2. PELAPORAN (Lampiran PMK-37/PMK.03/2015)
      • Badan usaha tertentu wajib melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM yang telah dipungut dan disetor ke Kantor Pelayanan Pajak tempat badan usaha tertentu terdaftar paling lama pada akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak. (Pasal 6 ayat (3) PMK-37/PMK.03/2015)
      • Pelaporan Ndilakukan setiap bulan dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Masa PPN bagi pemungut PPN. (Pasal 6 ayat (4) PMK-37/PMK.03/2015)

  1. DALAM HAL BADAN USAHA TIDAK MELAKUKAN PEMUNGUTAN (Pasal 7 PMK-37/PMK.03/2015)
    • Dalam hal badan usaha tertentu yang ditunjuk untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), badan usaha tertentu tersebut dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

No comments:

Post a Comment