p

Monday, December 19, 2016

I.4 Perlakuan PPN atas Penyerahan atau Perolehan/Pemanfaatan BKP TB dan Penyerahan/Perolehan JKP

  1. PERLAKUAN PPN ATAS PENYERAHAN ATAU PEROLEHAN/PEMANFAATAN BKP TIDAK BERWUJUD DAN/ATAU JKP
    1. PEMANFAATAN DARI LUAR DAERAH PABEAN DI DALAM KAWASAN BEBAS
      • Pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Kawasan Bebas, dibebaskan dari pengenaan PPN. (Pasal 33 ayat (1) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
    2. PENYERAHAN DI DALAM KAWASAN BEBAS
      • Penyerahan BKP tidak berwujud dan/atau JKP di dalam Kawasan Bebas, dibebaskan dari pengenaan PPN.(Pasal 33 ayat (2) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
    3. PENYERAHAN DARI KAWASAN BEBAS KE KAWASAN BEBAS LAIN
      • Penyerahan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas lainnya, dibebaskan dari pengenaan PPN. (Pasal 33 ayat (3) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
    4. PENYERAHAN DARI KAWASAN BEBAS KE TLDDP ATAU TPB ATAU KEK
      1. Penyerahan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari Kawasan Bebas ke TLDDP, dikenai PPN. (Pasal 33 ayat (4) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      2. Penyerahan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari Kawasan Bebas ke Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus, dipungut PPN. (Pasal 33 ayat (11) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      3. Dikecualikan dari pengenaan PPNuntuk penyerahan JKP yang menurut ketentuan peraturan per-UU-an perpajakan dibebaskan dari pengenaan PPN. (Pasal 33 ayat (5) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      4. Mekanisme ketentuan pengenaan PPN nya adalah :
        1. Saat terutang PPN nya adalah pada saat pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP di tempat lain dalam Daerah Pabean, Tempat Penimbunan Berikat, atau Kawasan Ekonomi Khusus. (Pasal 6 ayat (3)  PMK-62/PMK.03/2012)
          • Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari Kawasan Bebas terjadi pada saat: (Pasal 6 ayat (4) PMK-62/PMK.03/2012) (yang terjadi lebih dahulu)
            1. harga perolehan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP tersebut dinyatakan sebagai utang oleh pihak yang memanfaatkannya;
            2. harga jual BKP Tidak Berwujud dan/atau penggantian JKP tersebut ditagih oleh pihak yang menyerahkannya; atau
            3. harga perolehan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP tersebut dibayar, baik sebagian atau seluruhnya oleh pihak yang memanfaatkannya,
            • dalam hal saat terjadinya pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP ini tidak diketahui, maka Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari Kawasan Bebas ke TLDDP, TPB, atau KEK terjadi pada tanggal ditandatanganinya kontrak atau perjanjian(Pasal 6 ayat (5) PMK-62/PMK.03/2012)
        2. DPP atas PPN yang terutang adalah sebesar harga jual BKP Tidak Berwujud dan/atau penggantian JKP. (Pasal 6 ayat (6) PMK-62/PMK.03/2012)
        3. Cara Penyetoran PPN
          1. PPN yang terutang dipungut oleh Orang yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP di TLDDP, TPB, atau KEK pada saat pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP (Pasal 6 ayat (7) PMK-62/PMK.03/2012)
          2. PPN disetor ke kas negara oleh Orang yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP di di TLDDP, TPB, atau KEK melalui kantor pos atau bank persepsi yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan menggunakan SSP paling lama pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya pemungutan. (Pasal 6 ayat (8) PMK-62/PMK.03/2012)
            • SSP yang dilampiri dengan invoice atau kontrak merupakan dokumen yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak. (Pasal 6 ayat (9) PMK-62/PMK.03/2012)
          3. Ketentuan bagi Orang yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP :
            • Dalam hal Orang yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP merupakan PKP, PPN yang disetorkan dengan menggunakan SSP yang dilampiri dengan invoice atau kontrak merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan dilaporkan dalam SPT Masa PPN pada Masa Pajak yang sama dengan bulan penyetoran. (Pasal 6 ayat (10) PMK-62/PMK.03/2012)
            • Dalam hal Orang yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP bukan merupakan PKP, PPN yang disetor dengan menggunakan SSP lembar ke-3 wajib dilaporkan paling lama akhir bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Orang tersebut.(Pasal 6 ayat (11) PMK-62/PMK.03/2012)
        4. Untuk contoh penghitungan KLIK DISINI Lampiran III Romawi II huruf b dan c
    5. PENYERAHAN DARI TLDDP ATAU TPB ATAU KEK KE KAWASAN BEBAS
      1. Tidak dipungut PPN
        • jenis penyerahan yang PPN nya tidak dipungut adalah :
          1. Penyerahan BKP tidak berwujud dari TLDDP ke Kawasan Bebas (Pasal 10 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
          2. Penyerahan BKP tidak berwujud dari TPB atau KEK ke Kawasan Bebas (Pasal 10 ayat (4) PMK-62/PMK.03/2012)
          3. Penyerahan JKP tertentu dari TLDDP ke Kawasan Bebas (Pasal 10 ayat (7) PMK-62/PMK.03/2012)
          4. Penyerahan JKP tertentu dari TPB atau KEK ke Kawasan Bebas (Pasal 10 ayat (8) PMK-62/PMK.03/2012)
            • JKP tertentu adalah JKP yang batasan kegiatan dan jenisnya diatur dalam PMK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) UU PPN. (JKP tertentu ini adalah JKP yang atas ekspornya dikenai tarif 0%)
          5. Penyerahan BKP tidak berwujud atau JKP yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dibebaskan dari pengenaan PPN. (Pasal 10 ayat (10) PMK-62/PMK.03/2012)
        • Mekanisme ketentuan perpajakannya :
          1. PKP yang melakukan penyerahan wajib membuat Faktur Pajak sesuai peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
          2. FP harus diberi cap “PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 10 TAHUN 2012
      2. Dipungut PPN atas :
        1. Penyerahan JKP dari TLDDP ke Kawasan Bebas yang penyerahannya tidak dilakukan di kawasan bebas, dikenai PPN. (Pasal 10 ayat (5) PMK-62/PMK.03/2012)
        2. Penyerahan JKP dari TPB atau KEK ke Kawasan Bebas yang penyerahannya tidak dilakukan di Kawasan Bebas, dipungut PPN. (Pasal 10 ayat (6) PMK-62/PMK.03/2012)
        • Atas penyerahan JKP ini wajib dibuatkan Faktur Pajak sesuai peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (Pasal 11 ayat (5) PMK-62/PMK.03/2012)
    6. PPN ATAS PENYERAHAN JASA ANGKUTAN UDARA DAN JASA TELEKOMUNIKASI
      • Jasa Angkutan Udara (Pasal 7 PMK-62/PMK.03/2012)
        1. Atas penyerahan jasa angkutan udara di dalam Kawasan Bebas dibebaskan dari pengenaan PPN.
        2. Atas penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri dari TLDDP ke Kawasan Bebas dikenai PPN.
        3. Atas penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri dari Kawasan Bebas ke TLDDP dikenai PPN.
          • Untuk contoh penghitungan KLIK DISINI Lampiran III Romawi III
      • Jasa Telekomunikasi (Pasal 8 PMK-62/PMK.03/2012)
        1. Atas penyerahan jasa telekomunikasi di dalam Kawasan Bebas dibebaskan dari pengenaan PPN.
        2. Atas penyerahan jasa telekomunikasi dari TLDDP atau TPB ke Kawasan Bebas dikenai PPN.
          • Dikecualikan dari ketentuan pengenaan PPN atas penyerahan jasa telekomunikasi yang menggunakan jaringan berkabel (fixed line) di Kawasan Bebas.
        3. Atas penyerahan jasa telekomunikasi dari Kawasan Bebas ke TLDDP atau TPB dikenai PPN.
          • Untuk contoh penghitungan KLIK DISINI Lampiran III Romawi IV

No comments:

Post a Comment