p

Monday, December 19, 2016

Kawasan Bebas


  1. DASAR HUKUM :
    1. Penetapan suatu daerah sebagai Kawasan Bebas (KB) di antaranya:
      1. PP 46 TAHUN 2007 stdtd PP 5 TAHUN 2011 untuk Kawasan Bebas Batam
      2. PP 47 TAHUN 2007, untuk Kawasan Bebas Bintan
      3. PP 48 TAHUN 2007, untuk Kawasan Bebas Karimun
    2. Perlakuan PPN dan atau PPnBM untuk Kawasan Bebas diatur dalam:
      1. Pasal 16B UU Nomor 42 TAHUN 2009 (berlaku sejak 1 April 2010) tentang perubahan ketiga atas UU Nomor 8 TAHUN 1983 tentang PPN barang dan jasa dan PPnBM
      2. PP Nomor 10 TAHUN 2012 (berlaku 60 hari terhitung sejak tanggal diundangkan tanggal 9 Januari 2012) (PP ini  mencabut PP Nomor 2 tahun 2009 (berlaku sejak 16 Januari 2009) tentang Kawasan Bebas
      3. PMK-62/PMK.03/2012 (berlaku sejak 26 April 2012)  (PMK ini mencabut PMK-45/PMK.03/2009 stdd PMK-240/PMK.03/2009 tentang tata cara pengawasan, pengadministrasian, pembayaran, serta pelunasan PPN dan/atau PPnBM atas pengeluaran dan/atau penyerahan BKP dan/atau JKP dari kawsan bebas ke tempat lain dalam daerah pabean dan pemasukan dan/atau penyerahan BKP dan/atau JKP dari tempat lain dalam daerah pabean ke kawasan bebas
      4. PER-50/PJ./2009 tentang pencabutan PKP di Kawasan Bebas
      5. KMK-426/KMK.03/2010 (berlaku sejak 2 Desember 2010) tentang penugasan pejabat/pegawai DJP dalam rangka pengawasan atas pemasukan barang dari TLDDP ke kawasan bebas Batam, Bintan, dan Karimun.


  1. SURAT EDARAN/SURAT TERKAIT
    1. SE-39/PJ./2009 tentang Tatacara Endorsement, Perekaman dan Pemberkasan di Kawasan Bebas (formulir PP FTZ 01, 02, dan 03)
    2. SE-133/PJ/2010 tentang petunjuk pelaksanaan PMK-45/PMK.03/2009 stdtd PMK-240/PMK.03/2009 (PMK ini sudah dicabut oleh PMK-62/PMK.03/2012 (berlaku sejak 26 April 2012))
    3. SE-111/PJ/2010 tentang penegasan atas pelaksanaan pemberian persetujuan atas Pemasukan/Pengeluaran BKP untuk transaksi tertentu  pasal 2A ayat (1) huruf a dan b PMK-240/PMK.03/2009 (PMK ini sudah dicabut oleh PMK-62/PMK.03/2012 (berlaku sejak 26 April 2012))
    4. SE-59/PJ/2015 (ditetapkan 30 Juli 2015) tentang petunjuk pelaksanaan pengawasan dan pengadministrasian Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas pengeluaran dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean dan pemasukan dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas.

  1. KETENTUAN UMUM :
    1. Definisi dan Istilah
      1. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Kepabeanan.  (Pasal 1 angka 4 PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      2. Tempat lain dalam Daerah Pabean : Daerah Pabean selain Kawasan Bebas, Tempat Penimbunan Berikat, dan Kawasan Ekonomi Khusus (Pasal 2 ayat (3) PMK-62/PMK.03/2012)
      3. Endorsement : pernyataan mengetahui dari pejabat/ pegawai Direktorat Jenderal Pajak atas pemasukan Barang Kena Pajak dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, berdasarkan penelitian formal atas dokumen yang terkait dengan pemasukan Barang Kena Pajak tersebut. (Pasal 1 angka (10) PMK-62/PMK.03/2012)
    2. Informasi Terkait
      1. Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Bebas wajib dilakukan di pelabuhan atau bandar udara yang ditunjuk.  (Pasal 2 ayat (2) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
        • Pelabuhan atau bandar udara yang ditunjuk ini merupakan pelabuhan atau bandar udara yang telah mendapatkan izin dari Menteri Perhubungan dan telah mendapatkan penetapan sebagai Kawasan Pabean. (Pasal 2 ayat (3) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      2. Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Bebas hanya dapat dilakukan oleh pengusaha yang telah mendapat izin usaha dari Badan Pengusahaan Kawasan.  (Pasal 3 ayat (1) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      3. Pengusaha di Kawasan Bebas tidak perlu dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak(Pasal 4 ayat (1) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      4. Penyerahan barang di dalam Kawasan Bebas dibebaskan dari pengenaan PPN (Pasal 4 ayat (2) PP Nomor 10 TAHUN 2012)
      5. Pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari tempat lain dalam Daerah Pabean, sepanjang menyangkut pemberian fasilitas tidak dipungut PPN , pengawasan dan pengadministrasiannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (Pasal 18 ayat (3) PP Nomor 10 TAHUN 2012)

  1. KETENTUAN PERPAJAKAN ANTARA KAWAN BEBAS DENGAN LUAR DAERAH PABEAN (TERKAIT BKP BERWUJUD)
    1. PEMASUKAN BARANG DARI LUAR DAERAH PABEAN KE KAWASAN BEBAS
    2. PENGELUARAN BARANG DARI KAWASAN BEBAS KE LUAR DAERAH PABEAN (ruang lingkup pekerjaan DJBC) (pasal 16 PP 10 Tahun 2010)

  1. KETENTUAN PERPAJAKAN ANTARA KAWASAN BEBAS DENGAN TLDDP (TERKAIT BKP BERWUJUD)
    1. PEMASUKAN BKP DARI TLDDP KE KAWASAN BEBAS
    2. PENGELUARAN BKP DARI KAWASAN BEBAS KE TLDDP

  1. KETENTUAN PERPAJAKAN ANTARA KAWASAN BEBAS DENGAN TPB ATAU KEK (TERKAIT BKP BERWUJUD)
    1. PEMASUKAN BKP DARI TPB ATAU KEK KE KAWASAN BEBAS
    2. PENGELUARAN BKP DARI KAWASAN BEBAS KE TPB ATAU KEK

  1. PERLAKUAN PPN ATAS PENYERAHAN ATAU PEROLEHAN/PEMANFAATAN BKP TIDAK BERWUJUD DAN PENYERAHAN/PEROLEHAN JKP
    1. PEMANFAATAN DARI LUAR DAERAH PABEAN DI DALAM KAWASAN BEBAS
    2. PENYERAHAN DI DALAM KAWASAN BEBAS
    3. PENYERAHAN DARI KAWASAN BEBAS KE KAWASAN BEBAS LAIN
    4. PENYERAHAN DARI KAWASAN BEBAS KE TLDDP ATAU TPB ATAU KEK
    5. PENYERAHAN DARI TLDDP ATAU TPB ATAU KEK KE KAWASAN BEBAS
    6. PPN ATAS PENYERAHAN JASA ANGKUTAN UDARA DAN JASA TELEKOMUNIKASI

No comments:

Post a Comment